Rabu, 24 Oktober 2007

Tidak Semua orang perlu Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa berfungsi sebagai perlindungan jika
tertanggung meninggal dunia. Sebagai contoh, jika saya
adalah tertanggung dari sebuah produk asuransi jiwa
dan besok meninggal dunia, maka perusahaan asuransi
akan memberikan uang pertanggungan kepada orang-orang
yang saya tinggalkan.

Tujuan mengambil asuransi jiwa adalah untuk menutupi
potensi kehilangan pendapatan. Jika saya sebagai
tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga
yang saya tinggalkan akan kehilangan sumber
pendapatan. Jika saya mengikuti program asuransi jiwa,
maka keluarga yang saya tinggalkan akan mendapatkan
uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai
pengganti pendapatan yang hilang, paling tidak untuk
sementara.

Sebenarnya kaidah memilih produk asuransi jiwa tidak
jauh berbeda dengan memilih produk lain:

* Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak
diperlukan; dan
* Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi
jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.

Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan

Faktor-faktor utama membeli asuransi jiwa adalah
tanggungan dan kewajiban (misalnya tanggungan keluarga
ataupun tanggungan hutang). Jika seseorang tidak
memiliki keduanya maka yang bersangkutan tidak
membutuhkan asuransi jiwa.

Anak kecil (atau bahkan bayi yang baru lahir) tidak
memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena belum
memiliki tanggungan. Jika si anak meninggal dunia,
keluarga akan bersedih, tetapi tidak akan berpengaruh
buruk pada kondisi keuangan keluarga. Sebaliknya,
keuangan keluarga justru akan membaik karena jumlah
tanggungan berkurang. Membelikan si anak asuransi jiwa
pada tahap ini hanya akan memberikan uang gratis
kepada perusahaan asuransi.

Orang yang sudah memiliki penghasilan pun bisa jadi
tidak memerlukan asuransi jiwa jika yang bersangkutan
belum memiliki tanggungan dan tidak memiliki
kewajiban. Orang tanpa tanggungan dan tidak memiliki
kewajiban kepada pihak ketiga tidak memerlukan
perlindungan asuransi jiwa karena jika yang
bersangkutan meninggal dunia, tidak ada yang merasa
kehilangan penghasilan.

Jika orang tersebut di atas mengambil kredit �terutama
kredit konsumtif� maka kini yang bersangkutan sudah
memiliki kewajiban. Dengan demikian sudah waktunya
yang bersangkutan mengambil asuransi jiwa (jika kredit
tersebut tidak dilengkapi dengan asuransi kredit).
Jika tidak, maka dia berpotensi untuk memberatkan
kerabat-kerabatnya jika sesuatu yang buruk menimpanya.

Orang tua yang semua anaknya sudah mandiri dan tidak
lagi memiliki kewajiban kepada pihak lain juga tidak
memerlukan asuransi jiwa. Jika yang bersangkutan
meninggal dunia, anak-anaknya akan berduka, tetapi
tidak akan ada yang merasa dirugikan secara finansial.
Selain itu, jika orang tua tersebut mengelola dananya
dengan benar, maka seharusnya yang bersangkutan sudah
memiliki simpanan atau hasil investasi yang nilainya
jauh lebih besar daripada uang pertanggungan asuransi
jiwa.

Jika orang tua ini sudah memiliki cukup banyak
simpanan, dia bisa saja membatalkan asuransi jiwanya
sebelum waktunya jika dirasakan nilai pertanggungan
asuransi tersebut tidak sebanding dengan jumlah
simpanannya. Jika dia meninggal dunia sebelum
anak-anaknya mandiri, anak-anaknya tersebut tetap akan
mendapatkan warisan dalam bentuk simpanan tersebut.

Jika sudah tidak memiliki tanggungan dan tidak lagi
dalam usia produktif, yang dibutuhkan orang berusia
lanjut bukanlah asuransi jiwa, melainkan dana cair
dalam jumlah besar. Lebih lanjut lagi, dalam kondisi
seperti ini dibutuhkan produk yang benar-benar
merupakan kebalikan dari asuransi jiwa, yaitu anuitas.
Jika asuransi jiwa memberi perlindungan jika
tertanggung meninggal terlalu cepat, anuitas berfungsi
untuk memberi perlindungan jika tertanggung hidup
terlalu lama. Membayar premi asuransi jiwa pada saat
ini bisa jadi merupakan �bencana finansial� karena
yang dibutuhkan justru produk yang merupakan kebalikan
dari asuransi jiwa.

Membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang
mencukupi

Kebutuhan jumlah pertanggungan asuransi jiwa untuk
setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jumlah
tanggungan dan kewajiban. Pada dasarnya uang
pertanggunan asuransi jiwa haruslah mencukupi untuk
membayar lunas hutang-hutang, memenuhi biaya
pendidikan anak-anak tertanggung sampai mandiri, serta
untuk mempertahankan gaya hidup keluarga yang
ditinggalkan, setidaknya untuk beberapa waktu.

Ada keluarga dengan dua anak dengan hutang KPR
bernilai ratusan juta rupiah tetapi mengambil asuransi
jiwa yang nilainya hanya Rp 30 juta. Dalam kasus ini,
asuransi jiwa tersebut tidak akan cukup menolong jika
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kepala
keluarga. Untuk menebus hutang rumah saja tidak cukup,
apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak sampai
mandiri.

Bagaimana dengan anda?
Perlukah membuat perencanaan untuk asuransi anda dan
keluarga?

Tidak ada komentar: